Hai-hai readers…

Maaf ya, lama tidak update, semoga masih ingat dengan jalan ceritanya. Itu loh, cerita tentang Sasha yang unik, dan Jasmine yang rada-rada suka iri dan salah paham ke Sasha.

Atau bisa lihat kembali cerita sebelumnya di Fiction Library

Oke, baiklah. Check this out. Happy reading.

.

.

Sebelumnya….

.

.

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kalian semua berkumpul di satu tempat seperti ini. Hahaha.” Pria itu menyatukan 2 telapak tangannya membuat semua anak yang berdiri dengan paksa itu berkumpul menjadi satu dengan punggung beradu dan menghadap ke berbagai penjuru.

“Kalian semua harus ikut aku sekarang! Atau kalian akan melihat mereka semua menjadi abu dalam sekejap.”

.

.

.

Sisterhood part 12

.

.

Jasmine melangkah cepat menuju ke ruang kerja ayahnya di sebuah rumah sakit ternama di kota. Beberapa langkah lagi hingga akhirnya ia berdiri terpaku tepat di depan pintu ruangan. Tangan yang hendak menggapai handle pintu pun kembali terjuntai lemah setelah Jasmine tidak sengaja mendengar percakapan dari dalam ruangan dengan pintu masuk yang sedikit menganga. Jasmine pun memutuskan untuk balik kanan setelah mendengar percakapan antara Ibu dan Ayahnya yang membicarakan tentang acara makan malam bersama Sasha dan Peter sebagai acara penyambutan Peter sebagai anggota baru di keluarga mereka. Ia berjalan semakin menjauh hingga akhirnya berhenti dan terduduk di sebuah bangku taman rumah sakit.

‘Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus jujur tentang kejadian di sekolah tadi? Apa sebaiknya aku diam saja dan mencoba menyelidiki sendiri dulu? Atau aku biarkan saja mereka? Toh, mereka itu hanya berpangkat tamu di rumahku, jadi terserah mereka ingin kembali ke rumahku atau tidak. Atau sebaiknya aku telpon polisi saja, tapi apa yang harus kulaporkan? Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi tadi di sekolah, lagipula belum tentu juga mereka itu dalam bahaya, diculik atau semacamnya?’

Jasmine bergelut dengan pikirannya sendiri, apakah ingin menolong Sasha dan Peter dengan memberi tahu apa yang terjadi atau memilih bungkam seolah tidak terjadi apapun.

“Sedang apa kau di sini?”

Jasmine berbalik dan melihat seorang perawat di belakangnya.

“Ibu?”

Yusra mengangguk. “Tumben sekali kau datang kemari?”

Jasmine terdiam sejenak. “Tidak ada. Aku datang kemari membesuk seorang temanku yang kebetulan di rawat di sini.”

Yusra menatap Jasmine penuh selidik membuat Jasmine salah tingkah.

“Aku… pulang dulu, Bu.” Jasmine segera berbalik meninggalkan Yusra yang masih menatapnya curiga.

“Baiklah. Hati-hati di jalan. Sebentar lagi Ibu dan ayahmu pulang. Pastikan Sasha dan Peter sudah ada di rumah saat kami tiba.”

Jasmine hanya mengangguk pelan tanpa menoleh dan terus berjalan menuju lift di ujung lorong dan masuk dengan langkah di seret. Sehelai bulu merpati digenggam erat di tangan, berharap agar bisa membuatnya lebih yakin untuk mencoba menyelamatkan sahabatnya itu. Ia pun menghirup nafas dalam dan menatap lurus ke depan.

Sesaat menjelang pintu lift menutup, ia melihat siluet seseorang yang familiar mengikuti Yusra yang berbelok di ujung lorong. Jasmine terbelalak dan segera menahan pintu lift agar bisa keluar lalu mengejar seseorang dengan seragam sekolah serupa dengannya yang sempat melemparkan seringaian licik padanya itu.

 

*** *** ***

 

Gelap gulita. Tempat duduk yang bergetar. Suara mendesing memekakkan telinga. Itulah yang dirasakan Sasha kini. Pemandangan yang kelam dan pengap membuatnya bingung, takut namun penasaran.

“Peter?” Ujarnya pelan.

Hening. Hanya suara mesin mobil tua yang sesak nafas.

“Apa ada orang di sini?” Tanyanya dengan suara lebih keras.

Tidak ada jawaban.

Sasha yang tidak sabaran pun menggeliat dan mencoba mengeluarkan sayap hendak terbang namun nihil. Suasana gelap yang suram, dingin dan agak berbau menyengat itu membuatnya cukup sulit berkonsentrasi. Ia kembali mencoba beberapa kali namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya menyisakan alunan nafasnya yang memburu.

“Sepertinya kau tidak mudah menyerah juga rupanya.”

Sebuah suara membuatnya menoleh kiri-kanan, walaupun yang terlihat hanya layar hitam legam.

“Siapa kau?” Tanya Sasha ketus, masih menengok kanan-kiri.

“Sebaiknya kau coba melepaskan kain hitam yang menutupi kepalamu itu terlebih dahulu. Barulah kau bisa melihatku.”

“Bagaimana caranya? Siapa kau? Apa kau yang merencanakan semua ini?”

“Terserah saja kau ingin menyimpulkan seperti apa. Tapi kalau boleh berujar, lebih tepatnya posisi kita sama. Sama-sama tertangkap kembali oleh mereka.”

‘Tertangkap kembali?’ Tanya Sasha dalam hati. “Apa maksudmu? Jadi kau…”

“…Aku… lebih kurang, posisiku sama denganmu.” Potongnya. “Aku juga tertangkap oleh mereka.”

“Jadi kau… Peter?”

“Bukan. Aku Albert. Kau bisa memanggilku Al.”

“Baiklah Al, jadi kau bilang kalau posisi kita sama. Apa kau yakin?” Tanya Sasha sangsi.

“Begitulah. Kita tertangkap di sekolahan hari ini. Dan sekarang ini kita sedang berada di dalam sebuah mobil pick-up tua yang akan mengangkut kita entah kemana.” Jawab Al. “Tadinya kita ber-4 tapi satu lagi diambil penjga dan tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.”

“Hmm, jadi kau ini satu sekolahan denganku?” Celetuk Peter. “Tapi aku tidak menyadari kehadiranmu di sekolahan. Apa kau ini anak baru? Siswa pindahan? Atau bocah iseng yang kebetulan sedang sial?”

“Aku punya ide. Tapi sebelumnya kalian harus bisa membuka kain hitam yang menutupi kepala kalian.” Ujar Al seolah tidak mendengar pertanyaan Peter barusan. “Kain itu tidak mudah untuk dilepaskan, jadi kalian harus berusaha sedikit lebih keras untuk itu.”

“Kalau bicara saja itu gampang, apa kau bisa melepaskannya?” Tanya Sasha sewot.

“Hmm, begitulah. Aku membakar kain bau nan kumal ini dengan sedikit menjentikkan jariku.” Ujar Al santai.

Sasha tersentak dan mencoba hal yang sama, mengarahkan telunjuknya ke atas dan mengira-ngira dimana ujung kain hitam kotor yang hinggap di kepalanya. Cukup berdebar karena melihat api yang perlahan membakar kain itu mulai dari leher hingga ke ujung kepala.

“Api itu tidak akan membakar rambut atau kepalamu. Tenang saja.” ujar Al menenangkan seolah mengerti ketakutan Sasha.

Benar saja. Potongan kain buluk itu terbakar hingga menjadi semuanya abu dan akhirnya lenyap ditiup angin yang menerpa mobil yang dinaikinya.

“Bagaimana Sasha, apa kau berhasil?” Tanya Peter tidak sabaran.

Sasha menilik ke Peter yang ternyata duduk di sebelahnya, ternyata hanya dibatasi sebuah peti kayu kecil yang sudah hampir lapuk. Sasha juga melihat sesosok yang duduk selonjoran di depannya, menyandar ke kepala mobil pick-up lusuh itu.

“Bagaimana? Apa kau bisa melihatku sekarang?” Ujar Al menatapnya fokus. “Kau bisa lihat bagaimana keadaanku, sama sepertimu dan juga dia. Dan sepertinya dia tidak punya kekuatan untuk menghanguskan tutup kepala itu.” Sambungnya menunjuk Peter dengan sedikit menelengkan kepalanya.

“Kurasa itu karena dialah yang paling sulit berkonsentrasi. Kau tahu, hidungnya itu lebih parah dariku, sensitif sekali.”

Peter mengangguk. “Kain busuk ini sangat mengangguku. Aku baru tahu kalau di sini ada bau yang sangat menyengat seperti ini.”

“Benarkah? Wah, semakin menarik saja.”

“Maksudmu?” Tanya Peter bingung.

Sasha menatap Al waspada. “Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan sekarang, tapi kurasa itu kurang menguntungkan untukku. Atau lebih tepatnya, aku merasa kalau rencanamu itu akan sangat merepotkan.”

Al mengangguk lalu menyeringai mengambarkan rencana yang sudah tersusun di kepalanya itu akan terencana dengan sukses.

“Sasha, apa maksudmu? Apa dia merencanakan sesuatu yang buruk?” Tanya Peter.

“Hmm. Begitulah kira-kira, walaupun menurutku itu bukanlah ide yang buruk. Apa kalian bersedia?”

Sasha terdiam dan menatap Al waspada. Peter meneleng kiri-kanan mencoba melepaskan kain tudung hitam di kepalanya namun nihil.

“Baiklah kalau begitu, tapi dengan satu syarat. Kau harus membantuku menyingkirkan kain jelek bak bau telur busuk ini. Kain ini membuat kepalaku serasa ingin pecah, sakit sekali.”

“Hmm, bagaimana ya? Sebenarnya aku juga tidak bisa melakukannya sendiri.”

“Maksudmu?” Tanya Sasha kaget. “Kau menipu kami, begitu?”

Al menggeleng. “Sedari awal kepalaku memang tidak ditutupi kain. Jadi saat aku sadar, aku melihat kepala kalian sudah ditutupi kain seperti itu. Maaf, tapi aku hanya membual soal membakar kain itu. Aku juga kaget saat melihat kau benar-benar mampu membakar kain itu hingga menjadi abu.”

“Aku benar-benar tidak mengerti. Jadi kau ini manusia normal yang benar-benar sedang sial atau salah satu bagian dari kami?” Tanya Peter.

Al pun diam dan menghela nafas berat lalu memejamkan mata setelah menyandarkan kepalanya ke belakang.

“Kau jawablah pertanyaannya. Siapa kau sebenarnya?” Sasha bertanya tidak sabaran.

“Aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya aku adalah salah satu orang yang membuat kalian jadi mengalami kejadian seperti ini. Aku tidak tahu kalau akibat kerjaan isenk-ku itu bisa berdampak sangat besar seperti ini. Aku baru sadar hal itu saat melihat penderitaan kalian sebelum pingsan tadi. Sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya.”

“Kau berbelit-belit. Jadi sekarang katakan, apa kau di sini sebagai musuh atau penolong kami?” Tanya Sasha tegas.

“Aku juga bingung harus melakukan apa. Setelah melihat kalian sangat menderita seperti ini, aku baru tahu kalau aku sudah berlaku sangat kejam pada kalian.” Al menghirup nafas dalam dan menatap Peter iba. “Saat aku melihatmu sangat kesakitan karena detector yang kutanamkan di pundakmu itu, aku tidak sampai hati melihatnya.” Al kembali menghirup nafas dan menatap Sasha. “Aku semakin bingung dan merasa bersalah saat melihat kulitmu yang semakin pucat karena detector itu dirancang untuk menekan kekuatan kalian agar kalian bisa terus digunakan sebagai kelinci percobaan organisasi.”

“Jadi kenapa sekarang kau ada di sini bersama kami?” Tanya Sasha sinis. “Apa kau mata-mata yang di utus untuk menangkap kami kembali?”

“Aku kabur dari organisasi. Aku ingin mencoba memperbaiki kesalahanku dengan mencari kalian yang sudah berhasil kabur dari penjara itu dan berusaha untuk mengeluarkan detector itu dari tubuh kalian. Aku sudah menemukan beberapa diantara kalian dan berhasil me-non-aktif-kan alat itu. Dan kalau kuingat-ingat, alat itu hanya tersisa 2 buah dan itu tertanam dalam tubuh anak-anak yang paling kuat diantara bangsa kalian. Cukup sulit untuk menemukan mereka sampai akhirnya aku menemukan kalian berdua di sekolah beberapa hari lalu.”

Peter tertawa sinis. “Aku? Salah satu yang paling kuat? Aku bahkan tidak yakin apa kekuatan yang kumiliki.”

“Kekuatan membaca pikiran dan kekuatan berpindah dimensi dengan cepat itu adalah kekuatan yang paling kuat dari bangsa kalian. Setidaknya itu menurut penelitian yang sudah kulakukan di organisasi. Entah kalau di tempat asal kalian itu ada kekuatan yang lebih dari itu, aku juga tidak tahu.”

“Entahlah. Aku merasa kekuatan itu biasa saja.” Celetuk Sasha. “Kalaupun itu adalah kekuatan terkuat, tentu aku sudah lolos dan kabur dari mobil butut ini dari tadi. Kau lihat sendiri, aku hanya bisa membumi hanguskan kain jelek ini. Aku pun masih tidak tahu apakah itu benar-benar kekuatanku atau hanya kebetulan saja karena ada hal lain yang tidak kupahami.”

“Itu karena tali yang melilit di tubuh kalian itu bukanlah tali biasa. Tali itu dirancang khusus, terbuat dari logam yang sama dengan bahan yang digunakan untuk alat detector di pundak kalian. Saat kulit kalian bersinggungan dengan tali itu, kekuatan kalian akan diserap olehnya.”

“Wah, penjelasan yang rumit. Yang pada kesimpulannya membuatku bingung dan tak mengerti sama sekali. Kenapa kalian dan organisasi sampai mau menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk menghancurkan kami, anak ingusan yang kebetulan sedang beruntung karena tersasar di dunia ini.” Sasha berujar sinis.

Al kembali menghela nafas berat. “Jadi bagaimana? Apa kalian sekarang sudah penasaran dengan ide-ku yang brilian ini?”

Peter mengangguk ragu. “Baiklah, tapi tergantung nanti apakah ide itu masuk akal atau tidak.”

Sasha menatap Al skeptik lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Aku juga ingin mendengar apa idemu itu, tapi sama dengan dia. Tergantung nanti apakah itu masuk di akalku atau tidak.”

 

*** ***

 

“Tepat seperti dugaanku. Jadi kau mengikutiku sampai kemari?” Jessica berhenti namun tidak berbalik.

Jasmine yang ada di belakangnya pun berhenti dan tidak membalas.

“Tumben sekali kau mengikutiku? Ada masalah apa gerangan?” Jessica berbalik dan menatap Jasmine pongah. “Terjadi sesuatu dengan kacung setiamu itu?” Tanyanya santai.

Jasmine menyernyit bingung dan menatapnya ingin tahu. “Siapa yang kau maksud? Sasha? Sia itu saudaraku, bukan kacung seperti yang kau tuduhkan itu. seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di sini? Tumben sekali, jangan-jangan ada yang kau rencakan di tempat ini?”

“Maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu? Ujar Jessica menyindir. “Atau mungkin… ada sederet pertanyaan lain yang barangkali ingin kau tanyakan padaku?”

Jasmine hanya diam dan beranjak pergi tanpa menghiraukan Jessica yang berkacak pinggang padanya, masih dengan ekspresi sombong penuh kemenangan.

“Atau kau ingin tahu dimana dia sekarang?” Celetuk Jessica santai.

Jasmine berhenti sejenak. “Terserah kau saja. aku ada urusan yang lebih penting daripada meladeni kalimatmu yang bertele-tele itu.”

“Tepat seperti dugaanku. Kau memang sedang mencarinya.” Jessica menyeringai licik. “Dan sepertinya aku punya jawaban dimana kau harus mencarinya.”

“Aku tidak peduli. Saat ini aku sedang tidak ingin mencari perkara denganmu. Aku tidak punya banyak waktu.”

Jessica menghembuskan nafas panjang perlahan. “Baiklah. Sekarang berbaliklah. Aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik padamu.” Ucapnya pelan. Tidak lagi tergambar nada sinis.

Jasmine mendengus sebal dan berbalik. Ia melihat sehelai bulu abu-abu kehitaman di tangan Jessica. Tanpa reaksi apapun Jasmine menatap benda seukuran bulu elang itu fokus.

Jessica menangkap raut bingung Jasmine. “Darimana aku mendapatkan bulu ini, begitu? Apa kau ingin bertanya seperti itu padaku? Lanbgsung saja tanyakan padaku kalau begitu.”

Jasmine menatapnya focus.

“Kuperhatikan, kau jadi pendiam sekali akhir-akhir ini. Aku juga sebenarnya bingung harus bagaimana, apakah aku harus menyelamatkan dia atau tidak. “Jessica meracau sebal lalu berhenti sejenak menghirup nafas dalam. “Kau kenal Peter, bocah lugu yang sering bersama Sasha itu? Bocah itu memaksaku untuk mengalah padamu dan kacung anehmu itu. Dia, dengan wajah polosnya itu, beberapa kali telah menyelamatkanku. Kau tahu? Dia memberikan bulu aneh ini padaku. Anehnya, aku merasa kalau bulu ini membuatku tidak lagi merasa lemas seperti di sekolah tadi. Kau ingat kan? Semua penghuni sekolah tertidur setelah seorang pria aneh masuk ke sekolah dan menyuruh kita semua berkumpul di lapangan. Jadi sekarang aku harus bagaimana?” Ucap Jessica dengan irama yang cepat dan agak melengking di akhir kalimat.

Jasmine tertegun dan menyeryit bingung. “Kenapa kau malah bertanya padaku? Memangnya ada hubungan apa kau dengan Peter? Dan lagi, kenapa kau tadi datang ke rumah sakit? Ingin mengadu ke orangtuaku, begitu?”

“Tadinya memang begitu, tapi setelah melihat bulu ini aku jadi bingung harus bagaimana. Mengadu ke orangtuaku, mereka pasti hanya tertawa mendengar semua ceritaku di sekolah hari ini. Jadi aku berniat pergi ke tempat Bibi, barangkali ada yang mau mendengar cerita yang tidak masuk akal seperti ini.”

“Bibimu… bekerja di rumah sakit ini?”

“Ya. Ibumu itu adik ibuku. Aku juga baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Kau tahu sendiri, pekerjaan orangtuaku yang sering bepergian ke luar kota membuat keluargaku jarang pulang kampung berkumpul bersama dengan sanak saudara.”

“Oke. Baiklah. Jadi kesimpulannya, kau itu sepupuku, begitu?” Tanya Jasmine sangsi.

Jessica mengangguk. “Walaupun aku tidak percaya, tapi mau diapakan. Kenyataannya memang seperti itu.” Jessica melangkah mendekati Jasmine. “Dan kabar terakhir yang kudengar, ibumu itu cukup tertarik dengan masalah mahluk jadi-jadian seperti mereka itu.” Ujarnya pelan sambil memamerkan bulu di tangannya.

“Kau… tidak menjebakku kan? Kenapa aku masih agak ragu dengan penjelasanmu barusan ya? Hmm.” Jasmine menatap penuh selidik.

Jessica mendecak sebal. “Baiklah. Kau jangan salah paham dulu. Aku kali ini mengatakan yang sebenarnya. Dan perlu kau tahu, aku hanya berniat menyelamatkan Peter, bukan kacung anehmu itu.”

“Kenapa kesannya aku datang kemari untuk mendengar curhatanmu ya? Ceritamu yang panjang lebar kali tinggi barusan itu, maksudnya agar aku menolongmu membantu menyelamatkan mereka, begitu?” Jasmine menatap Jessica dengan raut bosan.

“Baiklah, terserah kau saja.” jawab Jessica ketus lalu berbalik dan menghentak pergi. “Tapi kali ini aku benar-benar berharap kau bisa membantuku menyelamatkan Peter. Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya. Aku takut dia pergi sebelum aku melunasi hutang budiku padanya.” Ujarnya pelan, nyaris tidak terdengar dan kembali melanjutkan langkahnya.

Jasmine mengejar Jessica lalu menghadangnya dan kaget melihat wajah Jessica. “Kau… menangis?” Tanyanya pelan.

“Tidak. mataku hanya kemasukan debu. Itu saja.” Sangkal Jessica lalu menyeka wajahnya yang basah. “Sudahlah. Aku pulang saja. Lagipula kau pasti tidak akan percaya dengan ceritaku barusan.” Sambungnya ketus dengan mata berkaca-kaca. “Kutegaskan lagi, aku tidak peduli dengan kacung anehmu itu. Aku hanya… ingin menyelamatkan dia. Kalau kau tidak mau membantu, ya sudah.” Sambungnya serak.

‘Bilang saja dari tadi kalau kau ingin aku membantumu menolong mereka.’ Gumam Jasmine sebal. “Jadi sekarang bagaimana? Apa kau ada ide?”

.

.

To be Continued

.

.

Sedikit lagi Ending, stay tune and keep RCL… Hehehe. 🙂

Sisterhood (Part 12)

Review Drama Tomorrow with You

4976_TomorrowWithYou_Nowplay_Small_YDcfkn0

Picture Source : dramafever.com

Genre : Fantasy, Time Travel, Romance
Episode : 16
Jadwal Tayang : 3 Februari – 25 Maret 2017
Stasiun Tv : TvN

Cast : Lee Je-Hoon as Lee So-Joon, Shin Min-ah as Song Ma-Rin, and the other cast.

Sinopsis : Kisah tentang Lee So-Joon (Lee Je-Hoon), CEO dari sebuah perusahaan Real Estate yang mempunyai kemampuan melakukan perjalanan menuju ke masa depan dengan cara melewati sebuah kereta (Subway). Ia memiliki seorang istri, Song Ma-Rin (Shin Min-Ah) yang berprofesi sebagai Potografer. Kisah dimulai saat Lee So-Joon mengetahui masa depannya yaitu kematiannya yang bersamaan dengan seorang gadis. Ia pun memutuskan untuk menikah dengan Song Ma-Rin untuk ‘avoid the Fate’. Seiring waktu, ia pun belajar untuk mencintai gadis itu.

Agak terlambat dari para reviewer lain yang udah duluan me-review drama korea satu ini, tapi kali ini aku ingin berbagi cerita tentang salah satu drama Korea yang baru-baru ini baru kutonton. Maklum, aku sering borong DVD tapi ditumpuk dan baru ditonton pas lagi mood. Dan aku bukan tipe yang betah duduk lama-alam di depan TV ato di depan laptop marathon nonton drama. Aku lebih suka sallow ajah, hanya 1 sampai 3 atau 4 episode saja sekali duduk. Hehe.
Drama ini kembali membuatku betah duduk ‘anteng’ di depan laptop dan tanganku diam di tempat tanpa bergerak me-fast forward ato memajukan line episodenya agar cepat kelar karena ternyata memang menarik perhatianku. Saking fokusnya nonton sampai tertegun sendiri tiap episodenya berakhir.

Alasan awalku untuk menonton drama ini karena temanya, Time Travel. Menarik juga kalau bisa berpindah ke masa lalu atau masa depan sesuka hati. Aku malah awalnya nggak ngeh kalau pemainnya itu keren-keren karena saking penasarannya dengan jalan cerita drama ini. Kedua, setelah melihat synopsis yang berseliweran, aku akhirnya penasaran ingin nonton. Ketiga, Soundtrack. Awalnya kupikir yang mengisi Ost. Drama ini salah satunya adalah salah satu Anggota Super Junior karena suara terdengar mirip dengan Yesung SuJu (Ketahuan kalau aku penggemarnya SuJu, Haha). Ternyata dan ternyata bukan, itu suara Seo In Guk rupanya. Hahaha. Ditambah beberapa lagu lainnya yang juga berima Mellow, berhasil membuatku jadi berasumsi kalau drama ini mungkin berakhir tragis karena Iramanya itu Mellow banget euy. Ternyata… (tonton sendiri untuk memastikannya, hahaha).

Aku suka dengan jalan cerita di drama ini. Bagi sebagian orang yang sudah pernah nonton ini ada yang bilang kalau alurnya membingungkan, tapi kalau menurutku tidak juga, asalkan menyimak dari awal cerita dan tidak dipotong-potong. Kan kebiasaan tuh kalau nonton di laptop ato DVD, suka dipotong seenak jidad sampai akhirnya jalan ceritanya jadi loncat-loncat kayak kodok di pematang sawah, gak jelas ujung pangkalnya. Jadi kalau boleh saran, kalau nonton drama ini jangan sampai kepotong-potong atao loncat-loncat agar tidak bingung dengan jalan ceritanya. Haha….
Song Ma-Rin yang tetap Kukuh dengan Lee So-Joon yang berulang kali membuatnya kecewa. Dia tetap percaya sampai akhir bahkan sampai puncaknya adalah saat suaminya terjebak di masa depan setelah berhasil menangkap biang kerok dari semua masalah mereka. Dan akhirnya So-Joon kembali dan bersatulah mereka kembali. Aaah, begitulah True Love barangkali, rasa percaya satu sama lain hingga akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Itulah yang membuatku terharu dan terkesan banget.

Ada beberapa yang menurutku masih jadi pertanyaan. Pertama, Kang Ki-Doong, temannya Lee So-Joon. Apakah dia itu diberitahu langsung oleh sohibnya itu? Atau si So-Joon ini ketahuan sampai akhirnya terpaksa harus mengakui kemampuan ‘ajaib’nya itu? Jarang-jarang ada seorang sohib yang ‘manusia normal’ mau begitu saja menerima sahabatnya yang ‘agak menghebohkan’ itu. Kedua, mungkin aku harus nonton lagi untuk menemukan pertanyaan atau kejanggalan lainnya. Hahai…

Untuk rating, aku pilih angka 8 untuk jalan cerita. Aku tidak mau lagi terpengaruh dengan rating dari beberapa Netizen yang bilang kalau drama ini sulit dicerna hingga ratingnya jadi begitu atau begini. Hehe.

N.B : Karena ini review drama yang pertama kali kubuat jadi kalau ada yang salah-salah, typo atau bahasa gaul yang kebetulan masuk di postingan ini, harap dimaafkan. Maklum, saking asyiknya menulis sampai tidak sengaja terselip. Hehe. Satu lagi, jangan lupa komentar para reader sekalian, ya…  🙂

Sebelumnya…

.

.

“Sepertinya hutan itu berarti sesuatu untuk kalian.” Celetuk Jasmine. “Ibu dan Ayah pernah bercerita kalau hutan itu adalah tempat mereka bertemu dengan orangtua Sasha untuk pertama kalinya. Yaah, walaupun aku tidak percaya semuanya ceritanya.” Ujarnya pelan di akhir kalimat.

Yusra menautkan alis. “Apa Ibu adan Ayah pernah cerita seperti itu sebelumnya?” Tanyanya ragu.

“Sebenarnya… aku yang mengarang cerita itu. Aku minta maaf, tapi kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu.”

.

.

.

Sisterhood part 11

.

.

“Jadi kau masih belum ingin bercerita?”

Sasha menoleh ke belakang dan mengambil sebotol air mineral yang diberikan Jasmine.

Jasmine lalu duduk di sebelah Sasha, di bawah pohon di taman belakang sekolah. “Aku sangat penasaran bagaimana caranya sampai kau bisa tinggal di rumahku. Kau bilang kemarin kalau kau merombak memoriku, jadi sekarang aku ingin kau jujur padaku, tentang semuanya.”

Sasha meneguk air mineral di tangan, menutupnya kembali dengan rapat lalu kembali melanjutkan bacaannya.

“Kau tidak mendengarku?” Jasmine merebut novel Sasha lalu melemparnya sembarang. “Apa kau benar-benar tidak ingin bercerita padaku?”

Sasha menghela nafas panjang. “Sebenarnya aku tidak ingin bercerita apapun, toh tidak ada yang akan berubah setelahnya.”

“Tapi aku ingin tahu semuanya. Kenapa kau bisa sampai di sini? Dan bagaimana ceritanya Peter juga ada di sini? Apa jangan-jangan ada lagi yang sampai di tempat ini bersama denganmu, setelah kedatanganmu atau sebelum kedatanganmu?” Tanya Jasmine beruntun.

Sasha menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. “Sudah kubilang, aku tidak ingin bercerita.” Ujarnya pelan lalu memasang headset di telinganya.

“Kau selalu saja begitu! Aku sudah mencoba untuk berbaik hati padamu, barangkali ada yang bisa aku bantu, tapi lihatlah tingkahmu ini, tak acuh sama sekali seolah aku ini hanya orang lain yang kebetulan melintas di depanmu. Dasar menyebalkan.”

“Tapi aku memang tidak ingin berce…”

KRIING KRIING!!

Bel tanda upacara pagi dimulai. Sasha mengakhiri kalimatnya, memasukkan buku ke dalam tas dan bersiap untuk mengikuti upacara bendera yang diadakan setiap hari Senin pagi.

Jasmine menarik lengan Sasha yang hendak menjauh. “Aku belum selesai. Kenapa kau buru-buru sekali?”

“Apa lagi?”

“Apa harus sekarang? Kau dengar tadi? Bel sudah berbunyi dan kita harus segera bersiap di lapangan.” Sasha mengibaskan tangannya hingga terlepas dari genggaman Jasmine. “Aku tidak mau mengerjakan hukuman konyol harena karena telat mengikuti upacara pagi ini. Apa kau mau dihukum Pak Rudi, guru BP yang menyebalkan itu? Kalau aku tidak mau. Terima kasih, aku tidak mau terlambat hari ini dan bertemu dengan beliau.” Ujarnya lalu melangkah pergi.

Jasmine terdiam dan segera berdiri mengiringi Sasha yang berjalan setengah berlari. “Tapi kau harus janji untuk menceritakan semuanya padaku.” Ujarnya setelah menyamakan langkahnya dengan gadis berkulit putih pucat itu.

“Bukan hari ini. Titik.” Sasha makin mempercepat langkahnya.

“Apa susahnya bercerita sedikit saja? Toh, kau sudah cukup lama tinggal di rumahku jadi pasti sedikit-banyak kau itu tahu tentang aku yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang menarik perhatianku.” Jasmine kembali meraih lengan Sasha dari belakang agar berhenti.

“Tapi itu bukanlah cerita yang menarik. Bahkan mungkin kau akan menyesal seumur hidup setelah mendengar ceritaku.” Sasha berhenti dan berbalik sampai menghadap ke Jasmine yang tepat di belakangnya. “Dan sebaiknya kau jangan pernah bertanya yang seperti ini lagi kalau kau ingin hidup tenang tanpa gangguan atau ketakutan.”

“Sedang apa kalian di sini? Ayo cepat berbaris!”

Jasmine dan Sasha menoleh ke sumber suara yang terdengar berat dan serak di gerbang masuk ke sekolah mereka.

Jasmine menurut tanpa banyak tanya diiringi ekspresi kesal karena Sasha masih berkeras tidak ingin bercerita. Namun berbeda dengan Sasha yang tertegun sejenak dan mengamati wajah sang satpam yang menegur mereka. Sasha menautkan kedua alis membuat si satpam berbadan kekar itu sedikit salah tingkah.

“Apa yang kau lihat?” Ujar si satpam ketus.

Sasha hanya menggeleng dan menyusul Jasmine yang beberapa langkah di depannya.

“Apa itu satpam yang baru?” Tanya Sasha setelah berhasil mengimbangi langkah marathon Jasmine. “Rasanya aku belum pernah melihatnya.” Ujarnya bingung.

Jasmine mengangkat bahu tanda tidak peduli. Tanpa menghentikan langkah, Sasha menoleh ke gerbang masuk di belakangnya yang ditutup rapat dan di kunci menggunakan rantai besi yang dililit dengan erat.

“Kenapa pula pintu di kunci dengan rapat seperti itu?” Tanya Sasha penasaran.

“Itu bukan urusanku. Tanya sendiri sama satpamnya.” Jawab Jasmine ketus.

“Jadi gantian, kau yang sekarang marah padaku, begitu?” Sasha bertanya dengan tatapan menyudut dan diiringi kekehan geli melihat Jasmine yang menghentak dan nyaris terjatuh saat menginjak kerikil.

Tiba-tiba Jasmine merasa sangat mengantuk dan tatapannya buram. Dengan sigap Sasha menangkap tubuhnya agar tidak berdebam ke tanah, mengalungkan lengan Sasha ke pundaknya dan menuntunnya untuk duduk bersandar ke dinding di dekat mereka.

“Jasmine, kau kenapa?” Tanya Sasha panik.

“Aku… tiba-tiba mengantuk. Aku tidak tahu kenapa.” Jawabnya lalu menguap lebar, lengkap dengan mata sayu yang sangat berat.

“Tapi ke…”

Sasha kaget dan terdiam melihat beberapa siswa lain di sekitarnya juga tidak jauh berbeda reaksinya, bahkan ada yang sudah terlelap dengan pulas dengan tiba-tiba.

“Ada apa ini? Kenapa semuanya tiba-tiba tertidur seperti ini?” Sasha melihat para siswa sudah mulai terlelap, tak peduli mereka terbaring di tengah-tengah lapangan, di depan kelas, atau di depan kantor guru.

“Dengan ini semuanya menjadi jelas.” Suara berat berujar di dekat podium di tengah-tengah lapangan. “Ternyata kalian memang berkumpul di sini. Aku tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengumpulkan kalian semua.”

Sasha menilik ke sumber suara dan melihat ternyata ada beberapa yang tidak terpengaruh dengan kejadian yang seolah menjadi wabah yang membuat semuanya terlelap bahkan guru-guru pun tidak luput dari kejadian mendadak ini. Sasha juga melihat Peter tak jauh dari tempatnya menunggui Jasmine yang pulas. Raut wajah pemuda itu juga tidak jauh berbeda dengannya, bingung, kaget dan tidak mengerti.

“Jadi… Coba aku hitung. Satu…, dua…, tiga…,” Pria jangkung itu kembali berkoar dengan mengarahkan telunjuknya tanda menghitung. “… Jadi ada tiga…, eh empat denganmu.” Ujarnya pongah setelah menunjuk tepat ke arah Sasha. “Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku. Hahaha.”

Sasha kembali menautkan alis dan menatap sekelilingnya. ‘Apanya yang tiga? Atau empat… denganku? Aku tidak melihat apapun, hanya Peter di ujung sana, terduduk dengan ekspresi bingung.’ Tanyanya dalam hati.

Pria jangkung yang berdiri di atas podium itu mengarahkan 2 telapak tangannya ke depan lalu menengadah ke langit seraya mengangkatnya perlahan. Sasha merasakan lehernya serasa dicekik membuatnya terpaksa segera berdiri dan berjalan mendekat ke tengah lapangan. Ia sempat melihat-lihat sekitar dan melihat beberapa siswa juga berjalan seolah diseret ke arah pria jangkung itu. Peter juga salah satu diantaranya.

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kalian semua berkumpul di satu tempat seperti ini. Hahaha.” Pria itu menyatukan 2 telapak tangannya membuat semua anak yang berdiri dengan paksa itu berkumpul menjadi satu dengan punggung beradu dan menghadap ke berbagai penjuru.

“Kalian semua harus ikut aku sekarang! Atau kalian akan melihat mereka semua menjadi abu dalam sekejap.”

Sasha, Peter beserta 2 siswa lain yang belum sempat berkenalan itu terpaksa menurut setelah pria jangkung itu mengikat mereka menjadi satu seperti seikat kayu dan membuat mereka berpindah dalam sekejap dengan teleportasi.

Tapi satu hal yang luput dari perhatian pria jangkung itu. Jasmine yang mulai terbangun setelah Sasha menaruh sehelai bulu sayapnya ke telapak tangan gadis itu sempat melihat detik-detik 4 siswa yang menampakkan wujud mereka yang sebenarnya sebelum menghilang dalam sekejap diiringi pria jangkung yang lenyap di urutan paling terakhir.

“Sasha… Sebenarnya apa yang terjadi?” Jasmine menatap lapangan yang diisi siswa yang terkapar berserakan di sekitarnya lalu menatap sehelai bulu keperakan itu nanar, bingung dan cemas.

.

.

.

To be Continued

.

.

Masih ada sambungannya, hehe. Nantikan kenajutannya ya, 🙂

Sisterhood (part 11)

Sebelumnya…

.

.

Jasmine mengangguk mengamini. “O ya, apa aku boleh bertanya sesuatu? Awalnya aku tidak terlalu peduli, tapi setelah melihat dia, aku jadi penasaran.”

“Apa itu?”

“Tanda di pundakmu itu… bukanlah tanda lahir, iya kan?”

“Maksudmu?”

“Aku juga melihat tanda yang sama di pundaknya.” Jasmine menunjuk Peter yang terlelap. “Aku rasa itu bukan suatu kebetulan kalau kalian punya tanda lahir yang sama. Dan kalau kuperhatikan, tidak ada kemiripan kalian kalau dibilang kembar. Jadi apa itu?”

.

.

.

Sisterhood part 10

.

.

“Kau mau kemana?”

Peter yang hendak memutar kenop pintu pun terhenti dan berbalik lalu melihat Jasmine berdiri berkacak pinggang. “Aku mau pulang.”

“Pulang kemana?”

“Pulang ke rumahku, kemarin kau bilang rumahku ada di sebelah.”

“Ibu berubah pikiran. Mulai hari ini kau tinggal di sini bersama kami.” Ujar Jasmine bangga. Sasha yang duduk di ruang tengah pun reflek berdiri dan menghampiri Jasmine. “Ibuku berpesan seperti itu sebelum berangkat ke rumah sakit tadi pagi.”

Sasha dan Peter saling tatap dengan alis bertaut. “Kenapa dia bisa tinggal di sini?” Tanya mereka bersamaan.

“Baru beberapa hari tapi kalian sudah kompak seperti ini. Baguslah kalau begitu.”

“Tapi kenapa aku harus tinggal di sini?” Tanya Peter. “Kupikir akan menjadi masalah kalau aku tinggal di sini. Lagipula aku tidak suka rumah yang terlalu ramai.”

Pintu masuk pun terbuka. Yusra muncul dengan membawa beberapa tentengan yang membuatnya cukup kepayahan. Peter yang berdiri paling dekat pun segera membantu membawakan beberapa kantong kertas dan plastik kresek yang bisa diraihnya.

“Kalian semua sudah berkumpul di sini rupanya. Baguslah. Sekarang kalian bertiga bantu ibu memasak dan beres-beres di dapur. Hari ini kita akan kedatangan tamu istimewa, dan jumlah mereka cukup banyak.”

“Bukankah hari ini Ibu dinas di rumah sakit?” Tanya Jasmine bingung.

Yusra menggeleng. “Tidak. Ada tamu penting yang akan datang kemari hari ini, jadi ibu minta izin pulang cepat hari ini. Ayo cepat bantu Ibu di dapur.”

Sasha menurut dengan wajah antusias diiringi Jasmine yang menampakkan raut malas dan terakhir Peter mengikuti dengan tentengan yang cukup merepotkan tanpa diberi kesempatan untuk bertanya atau sekedar menyapa wanita paruh baya itu.

“Apa Jasmine sudah memberitahu kalau mulai hari ini kau bisa tinggal di sini bersama kami?” Tanya Yusra sembari fokus memotong sayuran kol di depannya.

Peter mengangguk. “Terima kasih banyak, tapi…”

“…Tidak ada tapi.” Potong Yusra tegas diakhiri bunyi pisau yang beradu dengan tatakan hingga berdebam cukup keras membuat suasana seketika hening diselimuti aura horor.

Peter pun mengatup bibir rapat dan kembali mengolah bahan-bahan dan bumbu-bumbu masakan di meja di hadapannya. Dengan arahan Yusra, pemuda itu memotong sayuran, daging dan bahan masakan lainnya dengan cekatan, Jasmine sampai ternganga melihat tangan Peter yang lihai mengolah bahan masakan yang di perintahkan ibunya itu seolah sudah biasa memasak.

“Apa kau pernah belajar memasak sebelumnya?” Tanya Jasmine penasaran.

Peter memasukkan sejumput garam ke dalam sup di dalam panci lalu mengaduknya perlahan. “Tidak juga. Hanya saja aku pernah bekerja di sebuah rumah makan kecil beberapa waktu lalu.” Jawabnya sekenanya.

‘Ah, paling cuma alasan saja. Bilang saja dia itu menyelinap bak kucing dapur yang hendak mencuri makanan lalu ketahuan pemiliknya sampai harus ganti rugi dengan bekerja gratisan di sana.’ Gumam Sasha sinis.

‘Sebenarnya aku diselamatkan oleh si empunya rumah makan, jadi sebagai balas budi aku tinggal di sana dan membantunya memasak.’ Jawab Peter dalam hati.

Sasha tersentak kaget. ‘Aduh! Aku lupa kalau dia itu bisa membaca pikiranku! Dasar ceroboh!’ Rutuk Sasha menyesal dalam hati dan reflek mengaduh saat spatula di tangannya mengayun dan mengenai kepalanya sendiri.

Peter menyeringai jahil penuh kemenangan saat melihat Sasha yang salah tingkah. ‘Makanya hati-hati, aku bisa mendengar apa yang kau gumamkan.’

“Ehem.” Jasmine mendeham membuat Sasha dan Peter kaget. “Apa yang kalian lakukan dengan saling tatap seperti itu? Apa kalian itu sedang telepati atau semacamnya lagi? Asal kalian tahu, aku tidak suka orang-orang yang tidak mengacuhkanku, seolah aku tidak boleh masuk ke dunia mereka.” Ujarnya dingin.

“Tidak ada. Kau jangan salah sangka dulu.” Jawab Sasha pendek lalu kembali mengocok telur di mangkuk di hadapannya. Peter pun mengiringi dengan gelengan pelan dan kembali mengaduk sup di depannya.

‘Menyelamatkan dia?’ Tanya Sasha dalam hati. ‘Apa dia…’ Sasha akhirnya menggeleng keras agar tidak melanjutkan gumamannya.

“Apa Tante boleh tahu dimana rumah makan itu?” Tanya Yusra. “Mungkin kapan-kapan Tante bisa mampir ke sana.”

Peter menatap Yusra fokus lalu beralih ke Sasha.

‘Tidak apa-apa. Beliau sudah menyelamatkanku dan aku percaya padanya. Kupikir tidak apa-apa menceritakan semuanya pada mereka.’ Gumam Sasha saat membaca keraguan Peter.

Peter menghirup nafas panjang lalu membuangnya perlahan. “Rumah makan itu… sudah tidak ada lagi.” Ujarnya menerawang. “Rumah makan kecil itu diserang oleh segerombolan orang asing dan beliau mempertaruhkan nyawanya untukku. Mereka membakar semuanya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Aku berhasil selamat karena Paman itu mendorongku hingga masuk ke ruang bawah tanah sesaat sebelum ada bom meledak dan kebakaran yang mengerikan menghanguskan semuanya. Tapi gerombolan itu melihatku keluar dari persembunyian dan terus mengejar. Nyaris saja aku tertangkap sampai aku nekat berpindah tempat tanpa arah tujuan dan ternyata bertemu dengan kalian berdua. Dan jadilah kita berkumpul di sini hari ini.”

Ruangan pun hening. Hanya suara letupan sup yang mendidih diiringi detak jarum jam dinding yang berirama.

“Sepertinya hutan itu berarti sesuatu untuk kalian.” Celetuk Jasmine. “Ibu dan Ayah pernah bercerita kalau hutan itu adalah tempat mereka bertemu dengan orangtua Sasha untuk pertama kalinya. Yaah, walaupun aku tidak percaya semuanya ceritanya.” Ujarnya pelan di akhir kalimat.

Yusra menautkan alis. “Apa Ibu adan Ayah pernah cerita seperti itu sebelumnya?” Tanyanya ragu.

“Sebenarnya… aku yang mengarang cerita itu. Aku minta maaf, tapi kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu.”

Yusra menghentikan acara potong-memotong daging di hadapannya dan menatap Sasha bingung. “Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, saat itu aku melihat Ayah dan Ibu tersesat di hutan karena pesawat yang oleng dan tergelincir di dekat sana. Aku tidak bisa berbuat banyak karena kondisiku yang terluka parah setelah berusaha kabur dari organisasi dan nekat berpindah tempat tanpa arah tujuan. Ayah lalu mengobati lukaku saat Ibu pingsan karena shock setelah kecelakaan itu. Aku yang saat itu tidak mengerti sama sekali dengan bahasa manusia pun mengira kalian adalah bagian dari organisasi hingga aku memanipulasi cerita yang sebenarnya dari ingatan Ibu, Ayah dan Jasmine. Wajar saja kalau ceritanya ngawur karena perkembangan ceritanya itu menyesuaikan dengan imajinasi masing-masing. Aku pun jadi bingung bagaimana cara menjelaskan urutan peristiwa yang sebenarnya karena kulihat kisahnya jadi tidak nyambung satu sama lain.”

“Penjelasanmu itu… membuatku bingung.” Ujar Jasmine pelan. “Jadi… kau bukan sepupuku, begitu maksudmu? Dan pada intinya, kau belum bercerita sama sekali bagaimana kisahnya sampai kau tinggal di rumah kami, begitu?”

Sasha mengangguk. “Aku minta maaf. Tapi hanya satu ingatan itu saja yang aku rombak, selebihnya tidak ada lagi aku campur tangan.”

“Jadi… apa sekarang kau bersedia menceritakan kisah sebenarnya kenapa kau bisa sampai di sini?”

Semua menoleh ke sumber suara dan melihat sesosok yang berdiri di ambang pintu dapur. Ia menatap Sasha dengan raut kecewa yang kentara namun antusias dan khawatir masih terbaca di wajahnya.

.

.

.

To be Continued

 

Sisterhood (part 10)

Berjalan

Menulis. Aku ingin menuliskan sesuatu. Tapi aku bingung apa yang harus kutulis kali ini. Baiklah. Mungkin aku bisa mulai dengan sesuatu yang biasa. Sesuatu yang semua orang bisa mengalaminya. Atau bahkan, semua orang sering melakukannya setiap hari.

Berjalan. Itu yang ingin kuceritakan hari ini. Kupikir semua orang bisa melangkahkan sepasang kakinya untuk mengikuti ritme yang sama sehingga menghasilkan langkah yang berirama. Semakin cepat irama tubuhnya, maka semakin cepat pula gerakan kakinya. Maksudku ritme di sini bukan sebatas irama saja, tapi lebih dari itu. Gerakan kaki yang dihasilkan dari maksud dan tujuan hati akan masa depan.

Berjalan. Menurutku kata ini bisa memberikan makna yang beragam. Dalam arti singkat, berjalan bisa jadi merupakan suatu langkah kaki yang berirama untuk berpindah dari posisi semula ke posisi yang lain. Atau bahasa singkatnya, berpindah posisi dengan menapakkan kaki.

Dan menurutku, ada beberapa macam caranya. Yaitu berjalan rencana jangka pendek, menengah dan berjalan dengan rencana jangka panjang yang sudah disusun jauh-jauh hari.

Berjalan. Dalam jangka pendek, berjalan ini bisa jadi adalah gerakan spontan yang terjadi saat seseorang reflek berdiri dan melangkah dengan cepat dari posisi semula ke posisi yang lain. Kadangkala, ini bisa menjadi sesuatu yang membuat munculnya sesuatu yang tidak terduga, dan bisa jadi bencana. Kenapa? Berjalan dengan spontan ini bisa menabrak orang sekeliling, membuat jantung berdebar lebih cepat, atau yang lebih parah adalah bisa membuat peribahasa terkenal itu menjadi kenyataan yang sangat mengesankan karena bisa membuat suasana hati menjadi kacau balau dan menghasilkan kebingungan yang luar biasa, baik dari yang terkena dampak langsung maupun bagi para saksi yang melihatnya. Peribahasa yang terkenal maksudku di sini adalah “sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Bayangkan, sudah sakit karena jatuh, ketiban tangga, ngilu-ngilu di badan pula. Apalagi kalau pas lagi di TKP, banyak pula pasang mata yang melihat. Wuah, segeeer banget, langsung keringatan segede jagung, belum lagi wajah yang matang sekali mengalahkan kepiting rebus yang ukurannya segede piring itu loh. Hahaha.

Lanjut. Kita bahas macam berjalan yang kedua. Berjalan jangka menengah. Ini sudah lebih baik dari paragraph sebelumnya. Acara ini sudah ada rencana awalnya. Darimana, hendak kemana, mencari siapa dan bagaimana caranya biar tidak lagi Baper karena melihat gebetan yang lagi jalan sama pacarnya (eh?). Eits, salah, berjalan di sini yaaah tidak separah itu, hahaha, map, maap. Maksudku adalah, berjalan jangka menengah ini bisa jadi adalah melangkah ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh, tidak perlu persiapan berlebih dan kadang tidak perlu pakai acara dandan segala, hahai. Iyalah, masa’ iya pergi ke warteg sebelah buat sarapan aja harus pakai acara dandan sejam lebih, keburu habis dong, hihihi. Atau yang rada jauhan dikit, pergi nyamperin abang-abang jualan roti yang kebetulan lewat di depan rumah. Setelah memakai Toa yang bunyinya sampai ke ujung dunia sana, pakai sandal jepit aja keluar rumah juga udah rada mending daripada si Abang keburu kabur lagi karena kelamaan menunggu di depan rumah uang tak berpenghuni dan dihiasi aura yang membuat bulu kuduk merinding lebay, hiiii… (autor mulai ngelantur) #abaikan.

Okeh, lanjut ke macam selanjutnya. Berjalan jangka panjang. Dan inilah yang paling menyenangkan. Setidaknya bagi sebagian yang sudah merencanakannya matang-matang bahkan sampai nyaris gosong, dan diakhiri dengan happy ending pula. Wuah, sweet banget. Ada yang sering menyebutnya sebagai rutinitas, jalan-jalan atau berbagai acara berjalan lainnya yang sudah terencana dengan rapi dan memang si empunya kaki berjalan ini sudah niat banget buat melangkah. Contoh sederhana, rutinitas. Berjalan ke tempat rutinitas ini memang harus direncanakan sebelum hari-H. apa baju yang cocok kira-kira, berapa ongkosnya ke sana, waktu yang dihabiskan untuk berlari sprint kalau misalnya terlambat dan bagaimana caranya biar sampai di sana itu tidak menambah kemarahan si boss yang lagi moody. Ckckck. Atau contoh kedua, berjalan-jalan. Siapa yang tidak ingin berjalan-jalan? Atau istilah keren yang sering di sebut orang-orang adalah travelling, tamasya atau liburan. Naik apa ke sana, berapa budgetnya, berapa hari di sana dan pulangnya bagaimana. Jangan sampai lupa jalan pulang karena kehabisan ongkos di sana karena dompet menangis karena diskon yang selalu merayu di tiap sudut. Atau yang lebih parah, tidak mau lagi pulang karena liburannya menjadi yang paling menyedihkan sepanjang masa karena “diputuskan” secara tidak hormat karena si dia tidak terima kau lupakan begitu saja saat travelling yang sedari awal membuatnya Baper karena tidak diberitahu dan diajak pergi bersama.

Begitulah. Dari satu kata berjalan saja, ada banyak yang bisa diceritakan ternyata. Banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan yang satu ini. Tapi yaah, itu berlaku hanya jika Ghalau dan Bhaper tidak ambil andil terlalu banyak di dalamnya. Entah kalau dengan berjalan itu bisa menghalau dua perasaan tergawat sepanjang abad itu, itu tidak apa-apa juga. Bagus malah. Bertambah pula manfaat positif dari kegiatan sederhana, yaitu ‘Berjalan’.

Tapi jangan nekat juga. Mentang-mentang banyak manfaatnya, maka dipaksain jalan dari Bukittinggi ke Pekanbaru, atau berjalan cepat seperempat berlari dari Depok ke Jakarta. Bisa gempor tuh kaki. Hahai. Kalau memang butuh kendaraan untuk sampai ke tujuan, yaa gunakan saja. Entah kalau memang ada acara jalan sehat bersama warga sekampung atau acara lari 10 km rame-rame, wah pasti akan seru sekali. Menjelang garis finish, bukan berjalan lagi itu biasanya, tapi seringnya adalah… menyeret kaki yang sudah ngembek karena kecapekan. Hahaha.

Hmm, baiklah. Sekian dulu ya. Kapan-kapan di lanjut. Maap kalau ceritanya agak muter-muter seperti jalanan di Monas ya, hahai…

Hai hai reader… 🙂

Lagi nunggu lanjutan ceritaku ya?

Maaf, maaf, kelamaan. Ada something happen gitu lah, sampai 2 bulanan gak post blog lagi. Hehe…

Okeh, baiklah. Mari kita lanjut ceritaku part selanjutnya. O ya, bagi yang ketinggalan part sebelumnya, yuk mari tengok ke Fiction Library.  🙂

.

.

sebelumnnya

.

.

Sasha pun menurut. Raut kecewa dan sedih terpancar dari wajahnya yang kian memucat. “Aku… minta maaf. Aku selalu merepotkan…”

“…Berhenti mengoceh dan teruslah berjalan.” Potong Jasmine ketus. “Aku tidak suka melihat bocah sok sensitive seperti kau yang sekarang ini. Dan sebaiknya kau harus cepat bergerak sebelum hujan turun dan hutan ini semakin gelap atau kau mau menginap di hutan ini? Kalau aku, maaf saja. Aku tidak mau mengurusi bocah cengeng dan merepotkan sepertimu.”

.

.

.

Sisterhood part 9

.

.

 

Sasha dan Jasmine kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Atau lebih tepatnya, mereka tidak lagi seakrab sebelumnya. Jasmine lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain di game center atau bermalasan di rumah dan sedapat mungkin menghindari Sasha. Terlebih setelah insiden minuman botol kadaluarsa waktu itu, walaupun Sasha sudah berusaha meminta maaf dan penjelasan kenapa Jasmine kembali ke tingkahnya yang dulu, selalu menjauhinya. Semakin hari, Sasha dan Jasmine terasa semakin jauh seolah telah terjadi perang dingin antara mereka.

Jasmine selalu berusaha menghindari Sasha, sementara Sasha pun tidak bisa berbuat banyak karena tidak punya banyak waktu di rumah karena kesibukannya kerja parttime sepulang sekolah di sebuah rumah makan vegetarian hingga sore menjelang bahkan tidak jarang harus lembur hingga malam hari jika pengunjungnya sedang ramai. Sasha bahkan memutuskan menginap di tempatnya bekerja, selain karena jaraknya yang lebih dekat dengan sekolah, keahliannya memasak juga membuatnya sangat dibutuhkan. Ditambah dengan suasana rumah yang sepi karena Ayah dan ibunya yang lebih sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit dan Jasmine yang selalu menghindar membuatnya lama kelamaan menjadi menarik diri dan enggan pulang ke rumah.

Suatu hari Jasmine pun menyerah. Ia mulai penasaran dan mengikuti Sasha, mengawasinya dari jauh agar tidak ketahuan. Ia sering melihat Sasha yang terduduk di taman belakang, tak jauh dari rumah makan itu dengan wajah lelah setelah dimarahi habis-habisan oleh Boss-nya, bahkan hanya karena kesalahan sepele seperti tidak memakai topi koki, celemek dan semacamnya. Ingin rasanya membawa Sasha pulang dan menguncinya di rumah agar tidak kerja terforsir lagi namun ego-nya yang kembali tinggi membuatnya membiarkan Sasha tetap bekerja. Kekesalannya kembali timbul setelah Ibunya marah besar saat mendapati Sasha yang langsung jatuh pingsan sepulang dari lembah waktu itu akibat jus botol kadaluwarsa ditambah racun yang dicampurkan ke dalamnya.

Dua minggu berlalu. Sasha semakin sibuk dengan segudang aktifitasnya. Dan hampir dua minggu pula Jasmine terus mengikuti dan mengawasinya dari jauh. Ia sering melihat Sasha yang membisu dengan tatapan sendu saat melihat serombongan keluarga makan bersama dengan gelak tawa dan kegembiraan. Saat hari Minggu tiba, atau ada waktu luang di sela rehat dari pekerjaan, Sasha pun pergi ke lembah yang sering diceritakannya waktu itu, termenung dan akhirnya kembali berurai airmata di tengah kesendiriannya.

air-mancur

(Gambar: http://www.kaskus.co.id)

Saat pagi tiba, Sasha sering mnghabiskan waktu di lembah dan berbaur dengan burung merpati dan beberapa jenis lainnya sampai tiba waktu pergi ke sekolah, dia pun muncul kembali ke kamarnya atau di dekat restoran tempatnya bekerja lalu bersiap sekolah. Jasmine mengetahuinya saat kamera pengawas ditebarnya di beberapa tempat setelah berhasil mengetahui dimana tempat yang pernah dikunjungi Sasha karena semakin sulit mengikuti jejaknya karena gadis itu lebih sering menggunakan kekuatannya yang ber-teleportasi dalam sekejap mata dan menghilang dari TKP.

Jasmine pun menyimpulkan beberapa hal tentang Sasha. Gadis itu ternyata tidak punya teman. Ia acap kali sendirian kemana pun dan menghabiskan waktunya di lembah, menatap air mancur yang mengalir deras. Jasmine pun terpukau dengan  Sasha yang ternyata memiliki kekuatan dan kemampuan yang jauh melebihi kemampuan manusia normal. Kalau diibaratkan, kemampuannya itu seperti kekuatan seekor burung elang yang kuat dan tangguh dengan tampilannya yang anggun seperti angsa. Belum lagi kemampuannya berpindah tempat dalam sekejap dan mampu ber-kamuflase, menyamar sesuai keadaan dalam kondisi tertentu.

Kali ini Jasmine tidak lagi mengawasi Sasha lewat kamera pengintai, melainkan datang langsung ke lembah dan menunggunya sampai di sana. Cukup lama menunggu di balik pohon, tak jauh dari tempatnya memasang kamera pengintai berukuran mini itu, hingga Sasha menukik dari arah air mancur dan terbang merendah hingga akhirnya berdiri di batu besar dekat tepian jurang. Seperti biasanya, Sasha duduk dengan tatapan menerawang.

“Lama tak bertemu. Ternyata kau memang ada di sini.”

Sasha terbangun dari lamunannya dan mendongak ke sumber suara yang berdiri tegas di atas kepalanya. Kepakan sayapnya yang kuat menimbulkan deburan yang cukup membuat air beriak kuat.

“Mau apa kau?” Tanya Sasha dingin.

“Wah, ketus sekali.” Ujar pria 30 tahunan dengan suara berat yang kini terbang merendah seolah berdiri di atas air di depan Sasha. “Apa kau tidak rindu padaku?”

Sasha mencelos lalu mengembangkan sayap hendak beranjak pergi.

“Sepertinya kau buru-buru sekali. Apa kau tidak ingin mengobrol sebentar denganku sebelum pergi?” Ujarnya santai lalu duduk di seberang batu besar tempat duduk Sasha tadi setelah mengatupkan sayapnya.

Sasha berhenti sejenak tanpa berbalik. “Tidak perlu. Aku banyak urusan.” Ujarnya datar dan kembali melangkah.

Jasmine yang mengamati di kejauhan dari layar smartphone-nya menatap Sasha heran. ‘Siapa itu? Tidak biasanya Sasha berujar seketus itu.’ Pikirnya.

“Apa kau… akan selamanya tinggal bersama manusia?” Tanyanya pelan dengan tatapan iba. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau alami di sini?”

Sasha kembali berhenti dan berbalik. “Itu bukan urusanmu. Sekarang pergilah! Atau aku yang akan pergi!”

“Baiklah. Aku tahu kau sangat marah padaku karena kelalaianku waktu itu. Aku benar-benar minta maaf. Tapi setidaknya kau jangan bertingkah kekanakan seperti ini. Mereka semua mencemaskanmu.”

Sasha menanggapi dengan tatapan tajam penuh kekecewaan.

“Aku mengerti kenapa kau begitu marah padaku, tapi kumohon berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Kakak pasti akan sangat marah jika tahu kau tinggal dan berbaur bersama para manusia. Belum lagi kehidupan di sini sangat tidak cocok untukmu.”

“Terserah kau saja. Dimanapun aku tinggal, toh aku akhirnya akan tetap sendiri. Tidak ada pengaruhnya untukmu.”

“Tapi aku ini pamanmu. Dan ayahmu sudah menitipkanmu padaku jauh-jauh hari sebelum kejadian itu.”

“Dan kau menghilang begitu saja dan baru muncul hari ini setelah aku hidup tenang dengan kehidupan baruku di sini.”

Pria itu membisu, penyesalan semakin jelas tergambar di wajah putih bersihnya yang cenderung pucat.

“Kau… tidak memberiku pilihan lain.” Pria itu segera berdiri dan menghadapkan telapak tangannya ke Sasha hingga cahaya putih keperakan memendar dari telapak tangannya dan melesat cepat ke arah gadis itu.

Sasha dengan sigap menghindar namun pangkal lengannya sedikit tergores terkena kilatan cahaya yang melesat hingga ke pohon dibelakangnya yang membeku seketika. Sasha membalas dengan mengeluarkan percikan api dari telapak tangannya.

Pria itu dengan sigap menghindar dan melihat api yang berbentuk bongkahan itu tercebur ke dalam air dan menghilang setelah mengepulkan asap. “Kau… darimana kau mendapatkan kemampuan seperti itu?” Tanyanya kaget.

Sasha hanya diam sambil menimbang-nimbang bola api di tangannya. “Bagaimana? Apa kau tertarik mencobanya?”

Pria itu menggerakkan telunjuknya hingga muncul sekilas kilatan membuat bola api di tangan Sasha membeku seketika dan hancur meleleh. “Kau belum terlalu mahir menggunakannya. Ikutlah denganku, dan aku akan mengajarimu bagaimana cara menggunakannya dengan benar.”

Sasha kembali mengeluarkan kepulan api dari telapak tangannya namun perlahan lenyap diiringi asap setelah merasakan perih di pangkal lengannya. Reflek Sasha memegangi pangkal lengannya yang mulai beku dan memutih. Perlahan lengannya kembali pulih setelah seberkas api muncul dari tangannya membakar kepingan es yang menggerogotinya hingga meleleh menadji tetesan air.

“Hmm, boleh juga.” Pria itu mengangguk kagum. “Tapi belum sehebat aku…”

“AWAS!”

Sasha mendorong pria itu sedikit ke pinggir saat melihat seekor ular meliuk cepat ke arahnya. Pria itu reflek terbang melayang di atas air sebelum tercebur. Naas, tanpa disadari pria itu, Sasha terkena gigitan ular berbisa di pergelangan kakinya sesaat sebelum membakar habis hewan melata dengan ukuran cukup besar itu.

“Apa itu?”

“Itu ular berbisa. Di sini bisa ditemukan beberapa jenis. Sebaiknya kau jangan mendekatinya jika kau masih sayang nyawamu sendiri.” Sasha berdiri tegak dan mengibarkan sayapnya. “Aku pulang dulu, terserah kau mau pergi kemana tapi untuk kali ini aku tidak ingin pergi kemana pun.”

Pria itu tertegun. “Kau mau pulang kemana? Ke rumah manusia itu?”

Sasha mengangguk lalu terbang meninggi hingga terangkat di atas air.

“Baiklah. Untuk saat ini aku membolehkanmu tinggal bersama mereka. Tapi kalau kau butuh bantuan, aku akan mencoba membantu semampuku.” Pria itu pun mengibaskan sayap hitam keabu-abuan itu dan melesat membelah langit.

“Terserah kau saja.” Sasha kembali merendah dan berdiri tegak namun jatuh bersimpuh dan nyaris tenggelam dalam air.

Dengan sigap Jasmine keluar dari persembunyiannya dan menarik Sasha ke tepian. “Dasar ceroboh.”

“Sedang apa kau di sini?” Tanya Sasha kaget.

“Tidak penting. Sebaiknya kita pulang sebelum hari semakin gelap dan kawanan ular itu semakin bermunculan.” Jasmine mengalungkan lengan Sasha ke pundaknya. “Dan aku tidak mau pulang dengan jalan kaki.”

 

— — —

 

Sasha membuka mata perlahan dan mendapati suasana tidak asing begitu mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ia lalu mencoba bangun namun nihil, tubuhnya serasa ditindih batu super berat, susah untuk diajak kompromi.

“Selamat, kau berhasil mendapatkan tiket gratis untuk kembali menginap di pulau kapuk.”

Sasha menatap ke sumber suara yang berkacak pinggang di samping tempat tidurnya. “Sedang apa kau di sini?” Tanyanya pelan.

“Seharusnya pertanyaanmu itu… sudah berapa lama kau di sana?”

Sasha menautkan alis bingung. “Memangnya sudah berapa lama aku ada di sini? Apa kau yang membawaku pulang?”

Jasmine mengangguk. “Sebetulnya kami yang membawamu pulang.” Ujarnya menunjuk seseorang yang tertidur di sofa dengan wajah yang ditutupi buku. “Kau muncul tepat di depan dia.”

Sasha terlonjak dan berusaha bangun, dibantu Jasmine. “Dia? Siapa dia?”

Jasmine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku pun bingung mau menjelaskannya darimana. Tapi kalau boleh disimpulkan, kau dan dia itu sama.” Jasmine mendekatkan bibirnya ke telinga Sasha. “Sama-sama alien menyebalkan.” Lanjutnya berbisik.

Sasha mendengus sebal. “Ucapanmu barusan kuanggap sebagai pujian.” Ujarnya sewot. “Jadi, kenapa dia bisa sampai di sini?”

“Dia muncul entah darimana dan segera mengeluarkan bisa ular yang menggigit kakimu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dia seperti tabib super sigap, tangannya itu cepat sekali, tapi caranya itu agak berbeda dengan dokter pada umumnya. Dia hanya menempelkan telapak tangannya di kakimu hingga muncul cahaya kebiruan yang bersinar terang dan berangsur redup setelah kakimu mulai menyusut seperti semula.”

“Eh? Ajaib!” Ujar Sasha takjub. “Kau baru saja menciptakan sebuah dongeng paling masuk akal yang akan dikenang sepanjang masa.” Lanjutnya terkekeh.

“Aku serius!” Jasmine berkukuh.

“Jangan-jangan kau ini kurang tidur gara-gara kebanyakan nonton film fantasi. Mengaku saja.” Sasha meledek.

“Aaaaaakh, terserah kau saja.” Jasmine mendengus sebal. “Coba kau tanya sendiri. Lihat, dia sudah bangun.” Ujarnya menunjuk pemuda jangkung yang berjalan sempoyongan ke arah mereka.

“Kau sudah sadar rupanya. Syukurlah.” Ujarnya sembari mengucek matanya yang masih berat.

Sasha terdiam dan mencoba mengingat wajah yang terasa familiar yang kini berdiri tak jauh darinya. Pemuda jangkung dengan kulit putih nyaris pucat dan wajah oriental yang putih bersih.

‘Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya, tapi dimana?’ Tanya Sasha dalam hati.

‘Kau tidak salah. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.’

Sasha tersentak. ‘Kau… bisa membaca pikiranku?’

Pemuda itu mengangguk lalu menyunggingkan senyuman lega. ‘Dan kulihat kau juga begitu. Wah, kejutan yang menyenangkan.’

Sasha menautkan alis. ‘Sepertinya aku kena karma karena menertawakan Jasmine barusan. Sepertinya aku juga yang kebanyakan membaca novel fantasi sampai-sampai berpikiran yang tidak-tidak.’ Gumamnya lalu menghembuskan nafas berat.

Pemuda itu terkekeh geli.

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Jasmine manyun. “Dan ada apa dengan kalian berdua, saling tatap-menatap seolah hanya kalian saja mahluk hidup yang ada di sini. Apa kalian sedang telepati atau semacamnya?” Tanyanya asal. “Dan kau!” Jasmine menunjuk pemuda itu tegas. “Aku bahkan belum tahu siapa namamu karena kau langsung terkapar setelah mengobati dia kemarin.”

“Eh? Kemarin?” Sasha dan pemuda itu berujar serentak.

Jasmine mengangguk. “Dan kalian berdua sukses membuatku mati kutu karena ayah dan ibu terus-terusan menginterogasiku dengan pertanyaan yang membuatku terdiam seribu kata karena tidak tahu harus menjawab apa. Belum lagi dengan kondisi kalian yang boleh kukatakan, agak mengerikan.” Ujarnya emosi.

“Maaf.” Ujar Sasha pelan sambil mengulum senyum melihat wajah Jasmine yang merah padam menahan marah.

“Aku juga minta maaf, namaku Peter.”

“Setidaknya namamu itu terdengar lebih normal daripada tingkah anehmu itu.” Sungut Jasmine.

Peter menyeringai enggan. “Baiklah, karena dia sudah sadar, jadi sebaiknya aku pulang dulu.”

“Pulang kemana?” Tanya Jasmine menginterogasi. “Mulai hari ini, kau tinggal di rumah sebelah. Ibu dan ayah sudah mengatur semuanya.”

“Eh? Kenapa? Aku sudah punya tempat tinggal, tak jauh dari sini.”

Jasmine mendelik tajam dan melangkah dengan aura horror mendekati Peter yang mundur perlahan ke belakang hingga tersudut karena terhalang dinding di belakangnya.

“Kau jangan coba-coba kabur. Ibu dan ayahku sudah menyiapkan semuanya untukmu, jadi sebaiknya kau menurut saja. Atau aku akan membuat perhitungan denganmu.” Jasmine mengacungkan telunjuknya nyaris mengenai hidung Peter.

“Ba…iklah.” Jawab Peter gugup. “Tapi sebelumnya… aku mau mencoba ini dulu.” Lanjutnya mengambil sebuah apel dari nampan di meja kecil di sampingnya. “Sepertinya ini enak.”

Jasmine tertegun sesaat lalu mengangguk. “Apa kau tidak pernah melihat buah itu sebelumnya?”

Peter menggeleng polos. “Aku baru pertama kali melihatnya.” Jawabnya lalu menggigit apel merah marun itu ganas.

“Tung…” Pekik Sasha tertahan karena Peter terlanjur menggigit buah merah marun itu.

“Memangnya buah apa ini?” Tanya Peter sambil mengunyah lahap buah apel di tangannya.

‘Dasar ceroboh. Apa kau tidak tahu buah apa itu?’ Gumam Sasha prihatin.

Peter tersentak namun terlambat. Pandangannya seketika buram disertai mata yang berat karena kantuk yang amat berat. “Buah… apa itu?” Tanyanya pelan sebelum jatuh terduduk bersandar ke dinding hingga akhirnya tertidur pulas seketika.

“Pantas saja kau tidak pernah mau memakan buah ini. Ternyata seperti itu, kau akan segera mengantuk dan tertidur begitu memakannya.” Jasmine menoleh ke Sasha diiringi seringaian licik.

Sasha menghela nafas panjang lalu menampakkan raut bosan. “Terserah kau saja. Yang jelas, aku ini tidak seceroboh dia yang langsung main ambil saja sebelum bertanya.” Ujarnya malas.

“Seperti kau yang tak pernah ceroboh saja.” Ucap Jasmine sinis. “Padahal siapa yang dulu asal terima minuman botol tanpa melihat kapan masa kadaluarsanya?”

Sasha menyeringai salah tingkah. “Jadi sekarang bagaimana? Apa dia akan dibiarkan saja di sana?” Ujarnya mengalihkan pembicaraan.

Jasmine mengambil sweater tersampir di cantelan di belakang pintu dan menyelimuti Peter. “Sebentar lagi Ibu dan Ayah pulang. Aku tidak yakin, apakah dia itu hanya tertidur atau pingsan karena kelelahan.”

Sasha menaikkan bahu tanda tidak mengerti. “Mudah-mudahan Ibu dan Ayah cepat pulang.”

Jasmine mengangguk mengamini. “O ya, apa aku boleh bertanya sesuatu? Awalnya aku tidak terlalu peduli, tapi setelah melihat dia, aku jadi penasaran.”

“Apa itu?”

“Tanda di pundakmu itu… bukanlah tanda lahir, iya kan?”

“Maksudmu?”

“Aku juga melihat tanda yang sama di pundaknya.” Jasmine menunjuk Peter yang terlelap. “Aku rasa itu bukan suatu kebetulan kalau kalian punya tanda lahir yang sama. Dan kalau kuperhatikan, tidak ada kemiripan kalian kalau dibilang kembar. Jadi apa itu? Tattoo?”

Sasha terdiam. Tanda di pundaknya itu memang bukanlah tanda lahir, tattoo atau semacamnya. Tapi itu adalah suatu tanda yang akan selalu mengingatkannya akan masa lalu yang mengerikan, dan tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Hanya anak polos bernasib sial yang bisa mendapatkan tanda permanen itu, itu pun kalau anak itu berhasil tertangkap oleh organisasi terlarang yang khusus menampung anak-anak aneh seperti dirinya untuk dijadikan kelinci percobaan.

‘Jangan-jangan dia itu juga… tahanan yang berhasil kabur dari penjara itu, sama sepertiku?’ Pikir Sasha terkesiap.

.

.

.

To be Continued

.

.

Ya…. bersambung lagi, xixixi…. (Tertawa jahil). Tetap nantikan kelanjutannya ya!

Jangan lupa tinggalkan jejaknya youh, 🙂

Sisterhood (part 9)

Sebelumnya…

.

.

“Inilah wujud asliku. Hanya sepasang sayap dan warna mataku saja yang agak berbeda.” Ujar Sasha lalu mengatupkan sayapnya. “Aku bisa menyembunyikan sayap ini dengan membuatnya kasat mata.”

“Ternyata kau lebih menakutkan dari Ibu yang sedang marah-marah, atau penampakan hantu kuburan di malam hari.” Celetuk Jasmine pelan, raut kaget dan tidak percaya terpancar jelas dari wajahnya. “Jadi selama ini kau menyamar? Apa kau tidak kerepotan? Maksudku, bagaimana cara menyembunyikan sayap selebar itu? Dan mata itu, berapa lagi warnanya? Itu bahkan lebih keren dari lensa kontak.” Lanjutnya antusias.

.

.

.

Sisterhood part 8

.

.

Jarum jam berdenting lembut, berputar dengan teratur. Tidak ada yang begitu peduli karena mereka sibuk dengan suara yang mengalun dari headset masing-masing. Pelajaran bahasa Inggris yang kali ini berlangsung di labor bahasa membuat para penghuni kelas tidak terlalu bosan menunggu jam pelajaran berakhir. Namun tidak bagi Salsa, gadis itu tidak sabar menunggu acara Listening dan reading ini segera berakhir. Padahal biasanya ini adalah ruangan favoritnya karena ia bisa dengan mendengarkan lagu-lagu kesayangan, atau suara VJ radio yang sedang siaran, atau suara lain yang ingin didengarnya tanpa ada yang terganggu dan tentu saja, tidak akan diceramahi oleh guru karena sepintas tingkahnya itu seperti anak-anak lainnya. Dan itu karena headset yang dipakainya sudah direkayasa menjadi mp3 player atau radio dadakan tanpa harus menyambungkannya ke alat tambahan apapun.

“Ini. Untukmu. Ambillah.”

Salsa melepas headset-nya dan menoleh ke samping melihat siapa yang memberikan sebotol jus lalu meletakkannya di meja.

“Untukku?” Tanya Salsa ragu. ‘Tunggu dulu, aku belum pernah melihat dia sebelumnya di kelas, apa dia siswa pindahan? Atau siswa baru?’ Sambungnya dalam hati.

“Iya. Ambillah. Tadi Jasmine menitipkannya padaku, tadi dia buru-buru dan sepertinya dia melupakan ini.” Ujarnya ramah lalu memberikan sedotan ukuran sedang.

Salsa mengangguk pelan lalu kembali memasang headsetnya. Tanpa disadari seulas senyuman misterius tersungging di bibirnya.

— — —

“Apa tempatnya masih jauh?”

“Sedikit lagi sampai. Kita hanya perlu mengikuti jalan setapak ini dan berakhir di hulu sungai di depan.”

lembah

( gambar: http://buttonde.exblog.jp )

 

“Rasanya kau sudah mengatakannya beberapa kali. Aku lelah.” Jasmine berhenti dan duduk di sebuah batu besar tak jauh dari aliran sungai. “Kenapa kita tidak terbang saja?”

“Kupikir sesekali datang kemari dengan jalan kaki itu tidak terlalu buruk.” Jawab Salsa menyeringai kuda.

“Tapi…” Jasmine dengan sigap menarik Salsa ke belakang. “Hati-hati.” Ujarnya panik.

“Memangnya ada apa?” Sasha menatap Jasmine heran. “Aku tidak melihat apapun.”

Jasmine terkejut melihat mata Sasha yang perlahan berubah warna. “Apa kau…” Jasmine terdiam dan mengambil nafas dalam-dalam. “Sebaiknya kita pulang sekarang, sudah petang dan mendung pula. Aku tidak mau dimarahi Ibu karena pulang basah kuyup nanti.” Jasmine lalu menarik lengan Sasha kembali merunut jalan setapak di depan mereka.

“Tapi kita hampir sampai. Rugi kalau kau sampai tidak sempat datang ke sana. Lagipula aku sudah janji mengajakmu ke sana.” Ujar Sasha merajuk.

“Aku tidak mau tahu. Sekarang kita pulang. Titik.” Ucap Jasmine tegas lalu mengiring Sasha menapaki jalan setapak selebar ½ meter itu.

“Tapi…”

Jasmine memotong kalimat Sasha dengan gelengan tegas. Sasha pun menurut dan berjalan mengikuti Jasmine yang jalan di depannya, sesekali mengulum senyum melihat wajah manyun Sasha. Beberapa kali Sasha mencoba mengepakkan sayap namun gagal, bulu sayapnya berguguran satu per satu diiringi nafasnya yang tidak teratur. Seolah tidak mendengar apapun, Jasmine mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak menuju ke luar hutan yang menjadi jalur masuk menuju lembah yang diceritakan Sasha tempo hari.

“Apa kau… bisa pelan sedikit. Aku lelah.”

Jasmine tidak mengacuhkan dan terus berjalan mendekati cahaya keluar di ujung jalan sembari menggenggam lengan Sasha erat.

“Kita hampir sampai. Kita harus keluar dari hutan ini sebelum hujan turun.” Ujarnya tegas.

BRUUKK!!

“Kau tidak apa-apa?” Jasmine membantu Sasha bangun setelah jatuh telungkup karena tersandung akar pohon yang mencuat.

“Sudah kubilang, aku lelah. Apa kita tidak bisa istirahat sebentar?” Tanya Sasha pelan dengan nafas memburu.

Jasmine menatap Sasha iba. Ingin rasanya menurut dan istirahat agak sebentar karena dia pun juga agak lelah berjalan. Namun setelah melihat mata Sasha yang semakin mendekati warna aslinya itu memaksanya agar segera membawa sepupunya itu pulang sebelum hujan benar-benar turun membuat hutan semakin gelap dan lembab. Jasmine takut Sasha semakin lemah karena matanya yang semakin redup atau yang lebih parah, Sasha kehilangan kontrol akan kekuatannya sendiri dan bisa menimbulkan masalah baru untuk mereka.

“Oh, ayolah. Sebentar saja.” Sasha merajuk. “Nanti setelah kekuatanku mulai pulih, kita pulang dengan terbang dari sini.”

Jasmine berfikir sejenak. “Baiklah kalau begitu, tapi jawab dulu pertanyaanku. Aa kau sedang terluka? Atau sedang kurang sehat?”

Sasha menyernyit bingung dan menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanyanya sembari merogoh tas dan mengeluarkan sebotol jus ukuran sedang.

Jasmine mengamati minuman botol yang diteguk Sasha. “Darimana kau mendapatkan minuman itu?”

“Eh?” Sasha menatap botol yang isinya tinggal sepertiga di tangannya. “Bukankah kau yang memberikannya padaku?”

“Aku…” Jasmine berpikir sejenak. “Rasanya aku tidak pernah melihat minuman itu sebelumnya. “Apa kau yakin?”

Sasha mengangguk yakin. “Tadi ada yang memberikannya padaku, katanya itu darimu. Rasanya enak sekali, apa kau mau mencoba?”

Jasmine meraih jus itu dan kaget saat membaca merek yang tertera. “Bukankah ini… hanya sebotol jus jeruk?” Tanyanya bingung. “Tapi apa kau tidak lihat ini?” Tanyanya kaget sembari menunjuk sederetan angka di bagian tutup botol. “Memangnya apa yang kau lakukan selama ini? Apa kau tidak pernah memperhatikan tanggal kadaluarsanya?”

Sasha menautkan alis. “Memangnya itu perlu?”

“Aduuuh, memangnya selama ini kau kemana saja? Apa kau benar-benar tidak tahu atau kau memang tidak pernah memperhatikannya dengan teliti.”

Sasha semakin bingung dengan arah pembicaraan Jasmine namun urung bertanya atau sekedar menanggapi. Ia memilih duduk bersandar di batang pohon di dekatnya dan meluruskan kaki.

“Apa kau kehabisan kata-kata? Aku jadi semakin bingung, bagaimana caramu bertahan, minuman kadaluarsa seperti ini saja kau tidak tahu. Selama ini apa saja yang kau lakukan?” Jasmine mengomel berkacak pinggang.

“Hmm… kalau boleh jujur, aku baru pertama kali minum minuman botol dan semacamnya. Biasanya aku hanya makan makanan yang dibuatkan Ibu atau buah yang kubawa dari rumah, itu pun Ibu yang memilihkan untukku. Mungkin terdengar agak manja dan berlebihan, tapi memang seperti itu kenyataannya. Aku memang penasaran dengan makanan dan minuman siap saji di luar sana, tapi yaah… kau tahu, aku… sedikit berbeda jadi aku tidak mau sesuatu yang merepotkan terjadi di kemudian hari. Dan ibu pasti akan segera tahu kalau aku makan makanan di luar, aku juga tidak tahu dari mana beliau mengetahuinya, tapi begitulah kira-kira. Aku biasanya memilih jalur aman saja, hehe.”

Jasmine tertegun lalu menghela nafas berat. “Dan kenapa botol ini sekarang ada padamu? Isinya pun hampir habis, apa kau meminum semuanya?” Jasmine mencium bau aneh dari dalam botol.

“Tadi sudah kuceritakan, ada yang memberikannya padaku, dan katanya itu pemberian darimu. Kupikir itu tidak apa-apa selama itu darimu.”

Jasmine mengurut kening. ‘Dasar bocah lugu, aku jadi bingung apakah harus marah atau kasihan padamu.’ Gumamnya dalam hati. “Baiklah, sekarang kita pulang saja, dan jangan membantah.” Titahnya tegas. “Aku tidak mau lagi mendengar ocehanmu yang menyebalkan itu.”

Sasha pun menurut. Raut kecewa dan sedih terpancar dari wajahnya yang kian memucat. “Aku… minta maaf. Aku selalu merepotkan…”

“…Berhenti mengoceh dan teruslah berjalan.” Potong Jasmine ketus. “Aku tidak suka melihat bocah sok sensitive seperti kau yang sekarang ini. Dan sebaiknya kau harus cepat bergerak sebelum hujan turun dan hutan ini semakin gelap atau kau mau menginap di hutan ini? Kalau aku, maaf saja. Aku tidak mau mengurusi bocah cengeng dan merepotkan sepertimu.”

Sasha hanya diam dan menuruti Jasmine yang menarik lengannya agar berjalan dengan cepat keluar dari hutan lembab yang mulai dihampiri awan yang dingin itu. ekspresi kesal Jasmine tidak mampu menutupi raut khawatir dan takutnya.

“Sepertinya kau tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Baiklah kalau begitu, berpegangan yang erat.” Ujar Sasha mantap lalu merangkul pundak Jasmine erat dan mulai mengibarkan sayapnya.

“Tapi…”

Sasha tidak menghiraukan ucapan Jasmine dan terus mengepakkan sayap menuju ke langit yang termaram hingga keluar dari hutan.

“Apa kau serius? Dengan kondisimu yang seperti ini?” Jasmine melihat bulu sayap Sasha berguguran satu per satu mengiringi nafasnya yang terdengar sesak.

“Karena kau yang berkeras ingin segera pulang, aku jadi tidak tega. Aku rasa ini masih sempat. Berpegangan yang kuat!”

Sasha, dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang hanya tinggal satu-satu lalu menghilang dalam sekejap setelah terbang lurus beberapa meter melintasi barisan pohon pinus di bawahnya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Bagaimana ceritanya? Semakin seru? 🙂 Atau… semakin membosankan? 😦

Mohon Read, Comment, Like & jejaknya ya! Agar aku semakin semangat menulis, hehe

Sisterhood (part 8)